Ini Pesan Kakanwil Ajam Mustajam Untuk Para Pengawas Pendidikan Agama Islam Di Jawa Barat

Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kanwil Jabar Dr.H.Hanif Hanafi, sebutkan aktivitas evaluasi cobaan sumatif mata pelajaran pendidikan Agama Islam ( PAI) dan kecerdikan pekerti tahun aliran 2022/2023 sudah diikuti oleh 40 orang peserta, berisikan Pengawas PAI kabupaten dan kota sebanyak 34 orang dan dari bidang PAI sebanyak 6 orang,(12/8/23).

Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kanwil Jabar Dr Ini Pesan Kakanwil Ajam Mustajam Untuk Para Pengawas Pendidikan Agama Islam di Jawa Barat
Foto : para pengawas PAI di Jabar yang mengikuti rapat evalusi Mapel PAI

Diketahui kegiatan evaluasi ujian sumatif mata pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) dan kebijaksanaan pekerti tahun ajaran 2022/2023 ,telah dilakukan di Hotel Tryas, Jalan Raya RA. Kartini No. 86 Kota Cirebon, pada Sabtu kemudian, (06/08/2023).

Hanif Hanafi jelaskan kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari tersebut antara tanggal 3 sampai 5 Agustus 2023, dengan tujuan untuk mengukur ketercapaian pembelajaran mata pelajaran PAI dan kebijaksanaan pekerti, memetakan kesanggupan keagamaan akseptor asuh dan mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, selain menghimpun hambatan-hambatan dan kendala dalam pelaksanaan ujian sumatif mata pelajaran pendidikan agama Islam dan kebijaksanaan pekerti di lapangan sehingga dapat dicari penyelesaian pada kurun yang hendak datang dan menjamin kualitas dan kualitas penyelenggaraan pendidikan agama Islam.

Di lokasi kegiatan pentutupan rapat penilaian tersebut, Kakanwil Kemenag Jabar H. Ajam Mustajam berpesan kepada para pengawas PAI yang menjadi akseptor untuk mengamati betul pendidikan sopan santun dan adat para peserta latih. 


“Guru lebih berat dari struktural alasannya adalah mencetak generasi yang akan mendapatkan warisan kita. Untuk meneruskan kehidupan berbangsa dan beragama di tahun mendatang,” tandasnya.

Menurut Ajam, pembelajaran tidak cukup dengan wawasan semata tetapi harus dibarengi oleh pendidikan budpekerti dan budbahasa. “ Dulu proses pembejalaran murid cukup  menyimak apa yang diterangkan tetapi kekinian murid tidak cukup belajar dari apa yang dijelaskan. Murid malah lebih tahu dari pada guru alasannya perkembangan dari media massa,” ujarnya.

Kakanwil Jabar menjelaskan pula, kemajuan media massa telah menyebabkan murid memiliki kecerdasan yang melebihi tolok ukur. Tapi saat tidak diikuti oleh pendidikan akhlak yang baik mereka memiliki budbahasa yang kurang baik. Dampaknya adalah munculnya fenomena murid yang melawan guru atau murid yang melawan orang renta.

Ajam pun menegaskan, tentang tupoksi atau tugas pengawas dalam membantu proses pembelajaran guru yang ada di sekolah, dan bagaimana proses pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik, imbuhnya. (red)

0 Komentar